Aku ngga pernah berfikir tentang dzolim. Sampai akhirnya dihianati. Mereka bilang aku bohong, dzolim, galak, dan lain nya. Tapi, aku sadar cuma manusia.
Bertahun kenal bukan berarti sepemikiran, bertahun kenal bukan berarti satu langkah tanpa gejolak. Tapi, bertahun harus nya saling paham. Bukan memojokan.
Kenapa sih ngga bilang dari awal? Atau setidaknya di nasihati sambil jalan... Apa sudah jadi budaya, untuk menyimpan rasa lalu diluapkan semena mena? Hehe.
Aku bersyukur, alhamdulillah...
Segala puji bagi Tuhan Maha Kokoh
Kalau aku masih yang dulu, mungkin bukan hanya bungkaman yang aku lepaskan. Tapi juga kata kasar, nada tinggi, dan mempermalukan mereka dari setiap kata yang mereka ucap terhadapku.
Alhamdulillah aku sedang belajar, ilmuku tak setinggi alim, pahamku tak begitu dalam. Tak seperti ustd dikampungku.
Aku belajar untuk merendahkan suara, agar aku terbiasa bersabar dan menahan nafsu. Terbiasa bicara rendah dengan orang tua disekitarku. Bahkan pada mereka yang menyakiti keluargaku.
Lalu dalam proses belajar ini, kau kira seberapa sakitnya aku mendengar orang lain bernada tinggi terhadap ibuku? Padahal aku sedang menjaga hatinya terhadap ucapanku sendiri. Karena dosa ku terlalu menggunung terhadapnya. Sedih.
Aku belajar menjaga komitmen untuk menutup dan menjaga diri dari dosa. Karena yang aku tau, sebelum akad nikah dosa ini akan dibebankan pada papa. Lalu bagaimana tega aku menjerumuskan nya ke neraka karena dosaku. Menjaga komitmen, tentu tak sama seperti 'ya' diawal musyawarah lalu 'tidak' di akhir perjalanannya. Bukankah komitmen antar manusia harusnya di jaga dan dijalankan bersama? Saling mendukung satu sama lain? Kalau salah ya diingatkan, bukan berbalik diakhir. Dikira aku ini tak punya rasa? Haha.
Muhasabah,
Mungkin dulu aku pernah berkata dengan ketus kepada orangtua mereka, hingga ibuku yang harus diperlakukan yang sama.
Mungkin dulu aku pernah berhianat hingga kini aku dihianati.
Bertahun kenal bukan berarti sepemikiran, bertahun kenal bukan berarti satu langkah tanpa gejolak. Tapi, bertahun harus nya saling paham. Bukan memojokan.
Kenapa sih ngga bilang dari awal? Atau setidaknya di nasihati sambil jalan... Apa sudah jadi budaya, untuk menyimpan rasa lalu diluapkan semena mena? Hehe.
Aku bersyukur, alhamdulillah...
Segala puji bagi Tuhan Maha Kokoh
Kalau aku masih yang dulu, mungkin bukan hanya bungkaman yang aku lepaskan. Tapi juga kata kasar, nada tinggi, dan mempermalukan mereka dari setiap kata yang mereka ucap terhadapku.
Alhamdulillah aku sedang belajar, ilmuku tak setinggi alim, pahamku tak begitu dalam. Tak seperti ustd dikampungku.
Aku belajar untuk merendahkan suara, agar aku terbiasa bersabar dan menahan nafsu. Terbiasa bicara rendah dengan orang tua disekitarku. Bahkan pada mereka yang menyakiti keluargaku.
Lalu dalam proses belajar ini, kau kira seberapa sakitnya aku mendengar orang lain bernada tinggi terhadap ibuku? Padahal aku sedang menjaga hatinya terhadap ucapanku sendiri. Karena dosa ku terlalu menggunung terhadapnya. Sedih.
Aku belajar menjaga komitmen untuk menutup dan menjaga diri dari dosa. Karena yang aku tau, sebelum akad nikah dosa ini akan dibebankan pada papa. Lalu bagaimana tega aku menjerumuskan nya ke neraka karena dosaku. Menjaga komitmen, tentu tak sama seperti 'ya' diawal musyawarah lalu 'tidak' di akhir perjalanannya. Bukankah komitmen antar manusia harusnya di jaga dan dijalankan bersama? Saling mendukung satu sama lain? Kalau salah ya diingatkan, bukan berbalik diakhir. Dikira aku ini tak punya rasa? Haha.
Muhasabah,
Mungkin dulu aku pernah berkata dengan ketus kepada orangtua mereka, hingga ibuku yang harus diperlakukan yang sama.
Mungkin dulu aku pernah berhianat hingga kini aku dihianati.
Komentar
Posting Komentar