Langsung ke konten utama

Hijrah sejauh apa?

Dulu, aku bingung dengan hakikat memakai jilbab. Ya karena dari kecil lingkungan sama sekali tidak menekankan pemakaian jilbab. Aku sekolah di salah satu TK islam di Karawang. Memang kalo sekolah semua murid pake jilbab, tapi pas sekolah ngga ada tuh wali yg pake jilbab lagi kecuali guru disana. Dirumah pun gak ada yg pake jilbab termasuk isteri pak haji yang rumahnya persis di belakang rumahku.

 Waktu Aku Sd juga belum gencar gencarnya siswa disuruh pake jilbab. Semua rambut kepala anak perempuan keliatan dah. Pelajaran Agama aku dapet di sekolah yang emang guru agama nya itu deket banget sama muridnya, disitu aku mulai nyaman dengan 'keislaman' aku walaupun belum ngarti sama sekali dah. Haha. Make hijab full itu waktu mulai SMP, bukan hanya karna di wajibkan tapi karna aku yang udh mulai puber. Gak pede gitu kalo keluar rumah gak nutupin kepala. Yap, kulit aku yg gelap dan rambut yang keriting bikin aku ngerasa gak cantik. (wth)

Terus nih pas sma aku ikut rohis liat mbak mbak dengan jilbab panjangnya. Cantik. Terus mulai mikir tentang hakikat jilbab dan denger tuh kata hijrah.

Ini nih yang sampe sekarang bikin aku terus terusan mikirin tentang bagaimana harusnya aku berhijab,  apakah itu hijrah, dan kalau aku sudh dikatakan berhijrah sampe mana sih hijrahku itu.

Oke dah waktu SMA aku pake kerudung yang memang besar, jadi aku tekuk segitiga ngepas juga kerudung itu bakal ngebackup setengah dari lengan atas aku. So, secara tidak langsung aku pake kerudung panjang waktu itu dan aku merasa hangat. Yap. Aku juga heran kenapa begitu. Makin lama pake kerudung kayak gitu (panjang) bikin aku merasa terlindungi dan dihargai sama orang lain. Mereka jadi gak liat aku dari fisik. Kayak mukaku yg item, pinggangku yg kecil, atau apapun. Atau cuma perasaanku doang ya? Hahaha.

Lingkungan itu bener bener membentuk diri kita, aku bersyukur sama Allah di temuin sama mereka (kelompok amaliyah remaja). Walaupun awalnya ikut rohis cuma buat modusin kakak kelas sih. Wk.

Setelah lulus SMA, ini dia tantangannya.

Aku sadar sudah tidak di zona nyaman untuk istiqomah (kerudung besar). Pindah ke daerah lain yang pasti beda banget sama di gunungkidul. Ya walaupun masih di negara yang sama dan jaraknya gak sampe ribuan kilo dari gunungkidul sih. Di banyumas tempat aku lahir. Dengan mayoritas pemeluk agama islam, dan kerukunan antar umat disini sumpeh nyaman. Dalam satu RW ada masjid, wihara, dan gereja. Tapi, kesadaran untuk beragama bisa dilihat dari masjid - masjid yang sepi pas magrib. Well this a problem. Dulu di daerah ku tinggal deket masjid dan lumayan banget jamaahnya. Lah disini, sepi lurr... Pengajian juga jarang.

Setahun ini aku merasa terombang ambing. Salah satu nya karena mikirin kerudung. Alay? Yupss.

Gini...
Apakah hijrah memang berkaitan dengan kerudung besar?
Lalu kerudung lain?

Yang aku tau, hijab adalah kewajiban. Aku setuju dan paham kenapa Allah nyuruh aku pake kerudung. Tapi kalau hijrah di identikan dengan jilbab yang panjang, dan gamis ku rasa hijrah seperti itu masih jauh dari ku.

Aku memakai yang nyaman untukku. Memang sih beberapa orang bilang, pake gamis juga bisa ini itu. Yaaaa... Itu terserah mereka, hak mereka, ngapain aku ikut komentar. tapi aku pribadi belum bisa. Jadi sampai saat ini gak ada masalah buatku selama yang ku pakai tak mengganggu orang lain, tak membahayakan diriku dan tetap menjalankan yang wajib dari tuhan.

Entah aku yang salah dan kalian yang benar. Aku bukan ingin mencari pembenaran atas tindakanku. Yang pasti apapun itu, biar jadi urusanku dengan tuhan. Bukan dengan kalian.

Oke sekian... 💕

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cari Kerja huhah!!

               Diumur yang masih muda banyak tenaga yang kadang tidak sepenuh nya tersalurkan. Banyak “perfect dream” yang harus direalisasikan tapi anak muda ini stuck aja ditempat. Kebanyakan orang bermimpi buat bisa jadi kaya. Tapi tak pernah mau memulai sesuatu. Bahkan dari hal sederhana. Hal yang harus dilakukan setiap orang. Yaitu Bergerak             Aku nulis ini dilaptop orang dan wifi kios. Well mungkin aku terlalu medit buat beli barang semahal laptop. Ya. Mahal. Kenapa? Karna aku belum mampu beli dengan uangku sendiri. Kalau pun aku punya barang, itu semua pemberian. Pemberian orang tua.             Pernah ngga kalian menyangsikan pekerjaan orang? Jujur!             Pernah ngga kalian menganggap rendah pemulung, Tukang Sampah, Tukang parkir, penjual makanan ger...

Ketetapan Tuhan

Setiap rencana adalah ketetapan Tuhan Ini rahasia umum kan? curhatan ini disponsori oleh Allah sebagai pemberi rahmat dan hidayah atas segala kejadian yang berlaku dihidupku ini. alhamdulillah aku buka blog yang sudah berdebu penuh dengan sarang tawon. apakah aku harus menulis dengan buru - buru ya ? keburu di entup. ck ck cekakak..   But, hallo guys.. aku Krenjeng. wkwk  Galuh Ajeng :) Update kehidupan dulu kali ya.. aku sekarang sudah disemester tua. Pikiranku sudah mulai penuh dengan realita sosial. iya, benar saudara - saudara. Otak ku sudah terlalu lelah dengan realita, sampai lupa mengisinya dengan angan - angan. Ketika kata - kata "ditampar realita" mulai menjangkit sebagian manusia di quarter age-nya. Aku nyolong start, otakku penuh duluan. Jangankan di tampar, aku sudah berenang bersama realita. AJIGILE.  Pemanasan dulu nih lewat studi kasus.  Beberapa bulan yang lalu, seorang anak perempuan harus merelakan ayahnya diminta kembali oleh pemiliknya. Anak...

Berteman dengan husnudzon

Aku ngga pernah berfikir tentang dzolim. Sampai akhirnya dihianati. Mereka bilang aku bohong, dzolim, galak, dan lain nya. Tapi, aku sadar cuma manusia. Bertahun kenal bukan berarti sepemikiran, bertahun kenal bukan berarti satu langkah tanpa gejolak. Tapi, bertahun harus nya saling paham. Bukan memojokan. Kenapa sih ngga bilang dari awal? Atau setidaknya di nasihati sambil jalan... Apa sudah jadi budaya, untuk menyimpan rasa lalu diluapkan semena mena? Hehe. Aku bersyukur, alhamdulillah... Segala puji bagi Tuhan Maha Kokoh Kalau aku masih yang dulu, mungkin bukan hanya bungkaman yang aku lepaskan. Tapi juga kata kasar, nada tinggi, dan mempermalukan mereka dari setiap kata yang mereka ucap terhadapku. Alhamdulillah aku sedang belajar, ilmuku tak setinggi alim, pahamku tak begitu dalam. Tak seperti ustd dikampungku. Aku belajar untuk merendahkan suara, agar aku terbiasa bersabar dan menahan nafsu. Terbiasa bicara rendah dengan orang tua disekitarku. Bahkan pada mereka yang...