10 juni 2021
Sepertinya baru kemarin aku merasa tenang dan tidak kecewa. Baru kemarin aku berjalan di trotoar HR Bunyamin di waktu magrib bersama hujan rintik. baru kemarin ketika kita berjalan di depan gedung jurusan tetangga dan kau mengatakan entah bagaimana perasaanmu jika aku bersama yang lain. Iya, semuanya baru kemarin ketika mushola kampus menjadi tempat kita curi-curi pandang antara teras mushola dan tempat wudhu laki-laki yang memang hanya bersebelahan. Ketika aku dan kamu sama - sama menunggu untuk keluar Bersamaan berharap tatap itu bertemu di jalan yang dikenal sebagai Jalan Perjuangan. Ketika deretan kursi panjang di belakang bangunan magister menjadi tempat bercerita serta halaman perpus jadi tempat kita menghabiskan hari semasa kuliah.
Aku ingat juga, UTS waktu itu. Kursi kita yang bersebelahan menjadi perhatian teman sekelas. Kemudian kamu bernyanyi, menepati janjimu semalam. Bernyanyi pelan, hanya untuk aku. Dan cerita tentang boncengan pertama kita ? Saat hp ku harus raib jatuh di jalan. Wkwk basi ya cerita ini. Tapi selalu menarik untuk diriku sendiri.
Ini ceritaku tentang masa muda, Sekarang juga
masih merasa muda. tapi sungguh masa muda adalah masa yang sangat bimbang. Di satu sisi kita dituntut untuk menjadi dewasa, Sisi sebelah kanan kita memiliki impian, Sisi sebelah kiri kita memiliki masalah, ke
depan, belakang, ke atas, ke bawah, masa muda benar-benar memiliki sisi-sisi yang
berbeda tetapi dituntut untuk dapat berjalan bersama pada satu diri. Manusia
yang seperti diriku ini .
Bermain dengan hati, sebenarnya cerita ini bukan
hanya tentang kisah percintaan namun ini tentang hati yang benar-benar diikat
dengan tali mati. Mungkin ini salahku membuka hati terlalu cepat padahal
hati belum siap. Aku yakin ini salahku karena terlalu sibuk memikirkan
sakit hingga tergesa-gesa untuk memutuskan hal-hal yang kurasa bisa
membahagiakanku. Yaitu kamu.
Nyatanya ditinggalkan mu lebih sulit untukku, dulu aku kehilangan. Iya aku pernah kehilangan yang tidak hilang. Aku hanya Kehilangan tapi masih dapat merasakan kehadiran. Jujur Saja, kamu pun tau.. kehilangan keluarga kecil mengoyak hatiku. Ketika itu, aku memiliki kamu sebagai tujuanku berikutnya. Aku merasa kehilangan pijakan ku, namun aku merasa, aku masih bisa maju walaupun harus merangkak karena aku melihat kamu di ujung sana. Aku berkata “namun” lagi, siapa yang bisa memastikan tujuanku akan tetap di sana menungguku hingga aku pantas menuju kamu.
Aku ingin bicara padamu. Tapi sungguh aku tak lagi mampu menatap kamu
yang cintanya telah hilang untukku.
Komentar
Posting Komentar