(Subuh itu syahdu.
Mungkin untuk beberapa orang yang belum mengenalnya akan lebih memilih senja
yang indah itu ya. Tapi bagaimanapun aku ngga akan menjudge mereka hanya karna
pilihan mereka akan senja. Senja itu menarik bagi mereka.)
Kita punya
perbedaan prinsip. Ya. Masing masing otak punya cara berpikirnya sendiri. Kalian
pernah jatuh disituasi yang mengharuskan kalian waspada terhadap orang di
sekitar?
Ceritanya gini
Didaerah tempat
aku tinggal ada dua suku yang sering banget bersitegang. Menurutku sih masing –
masing merasa super power didaerah ini. Yang A lahir disini, yang B pendatang
yang terkenal garang. Sampai beberapa kali menelan korban jiwa. Entah dari Suku
A atau B. Aku ngga bisa nyalahin suku mana paling bener karna ini murni masalah
individu bukan kelompok. Ya kalo ada bunuh bunuhan antar kelompok, tetep aja yang salah individunya kan.
Pokok penjelasan
kali ini bukan masalah bunuh membunuh antar orang yang berbeda suku itu. Lebih kepada
bagaimana sih kita harusnya bersikap pada keadaan ini. Keragaman kita ini
sumber konflik dan itu santapan renyah bagi orang luar yang selama ini bermimpi
menjadikan kita terbelah. Ya. Terbelah itu hanya mimpi buat mereka selama aku
dan kamu *cie merapatkan betis bersama buat menghalau konflik.
Aku bertemu dengan
banyak orang yang cerita ke aku. Ya sebenenrnya curhat sih. Tentang hal ini. Seorang
ibu dateng ke toko terus duduk. Aku yang baru ganti shift ya berusaha seramah
mungkin lah. Ibu itu istri dari kontraktor kayu. (aku gak Berprasangka kalo
suaminya salah satu bos nya para penebang itu ya) rumahnya pindah pindah. Kalo aku
liat dari logatnya kaya logat batak. But i dnt know well.
Ibu dan keluarganya pindah ke daerahku terus dapet
rumah kontrakan yang murah banget. Singkat cerita dia tetanggaan sama seorang
mafia yang punya banyak anak buah. Sampe ada kisah penyiksaan didalamnya tp gak
terendus karna mayat orang yang disiksa itu dimakan anjing didalam rumah. (kaya
cerita bohong kan? Iki serius cah.)
Terus apa hubungan
cerita ibu itu sama ini semua, Jeng? Gaje.
Aku tertarik sama
pribadi ibu ini. Dia bilang keluarga besarnya memeluk agama yang berbeda beda. Lalu
dia prihatin sama keadaan indonesia sekarang. Beliau ini guru bahasa inggris. Guru,
insyaallah pengetahuannya lebih baik dari pada aku yang awam ini kan ya.
“Keluarga hidup
tentram saja. Masalah kepercayaan yang senyamannya orang aja. Tinggal pun
seperti itu kan. Buat apa sih dipermasalahkan. Kejadian ini bukan masalah suku
kan. Kok dibawa ke-suku sih. Bukannya enak hidup nyaman dan tentram.”
Kurang lebih
begitu. Banyak yang beliau bicarakan tapi ngga bisa aku utarakan karna nanti
kalian baper.
Darimanapun kalian
kita sebangsa. Menginjak dan menghirup udara yang sama. Jangan pernah
menyangkutkan masalah satu orang ke sukunya. Itu gak bingits. Liat yang salah
siapa itu dari individunya. Bukan suku nya. Wong liyane meneng wae, kok dadi
disangkutke. Sakne. Yo ora?
Komentar
Posting Komentar